banner 728x250

Aksi damai jilid 1 dari 23 desa penyangga Balai tnwk,labuhan ratu Lampung timur

Avatar photo
banner 120x600
banner 468x60

LAMPUNG TIMUR — Ribuan warga yang tergabung dalam Aliansi Desa Penyangga Taman Nasional Way Kambas (TNWK) menggelar aksi unjuk rasa di Balai TNWK, Lampung Timur, Selasa pagi (13/11/2026). Aksi ini menjadi luapan panjang konflik manusia dan gajah yang tak kunjung selesai, bahkan telah menelan korban jiwa Kepala desa braja asri darusman ,Massa bergerak menuju Balai TNWK sambil membawa poster-poster bernada protes dan sindiran keras. Di antaranya bertuliskan: “Stop Konflik Gajah dan Manusia,” “Kami Tidak Memusuhi Gajah, Kami Hanya Ingin Melindungi Ladang,” hingga “Jika TNWK Gagal Konservasi, Pulangkan Gajah ke Asalnya. Dalam aksi tersebut, massa membawa poster tuntutan dan menuding pengelola TNWK tidak peduli terhadap keselamatan warga. Mereka juga mempertanyakan anggaran miliaran rupiah dari pemerintah pusat yang seharusnya digunakan untuk konservasi dan penanganan konflik satwa liar. Foto kepala desa darusman menjadi simbol bahwa konflik ini bukan sekadar statistik, tetapi soal nyawa “Kawan-kawan, kami datang ke sini bukan untuk ribut. Kami datang untuk

menuntut keadilan. Tanaman kami dirusak, mata pencaharian kami dihancurkan,” teriak salah satu orator di tengah massa. Orator lain menyebut konflik antara gajah Way Kambas dan masyarakat desa penyangga telah berlangsung puluhan tahun tanpa solusi nyata. “Kami lahir sudah berkonflik dengan gajah. Orang tua kami jadi korban, kepala desa kami jadi korban. Kami tidak ingin giliran kami berikutnya. Ladang kami diinjak, tanaman kami dihabiskan,Massa menegaskan, tuntutan mereka sederhana namun mendasar: hentikan konflik manusia dan gajah sekarang, bukan nanti. “Kami minta konflik ini dihentikan. Bukan dengan seminar, bukan dengan rencana di atas kertas. Kami minta konflik gajah dihentikan mulai malam ini,, Ribuan Rumah Terdampak dan Tiga Warga Meninggal Di balik teriakan itu, terselip satire getir yang menohok pengelola kawasan konservasi. “Setiap malam kami habiskan uang beli mercon untuk mengusir gajah. Itu uang dari mana? Dari ladang yang sudah hancur? Dari hasil panen yang sudah diinjak?” sindir seorang petani, disambut sorak massa. Mereka juga mempertanyakan keberadaan dan kinerja pengelola TNWK. “Di mana kalian para pengurus taman nasional? Apa yang kalian kerjakan? Kami dengar terus kalimat ‘sedang diusahakan’, konservasi yang ideal bukan sekadar melindungi satwa, Aksi unjuk rasa ini mendapat pengamanan ketat dari Polres Lampung Timur dan Kodim 0429/Lampung Timur.

banner 325x300

Kapolres Lampung Timur AKBP Heti Patmawati mengapresiasi jalannya aksi yang berlangsung tertib. “Kami mengawal agar aspirasi dapat disampaikan dengan aman. Silakan sampaikan orasi dan keluh kesah dengan tertib,” ujarnya. Senada, Dandim 0429/Lamtim Letkol Danang Setiaji meminta massa tetap menjaga ketertiban selama aksi berlangsung.

Alhamdulillah kesepakatan membuahkan hasil

Yg manis

1,Mulai Selasa malam (13/01/2026), gajah TNWK tidak lagi memasuki permukiman warga maupun lahan pertanian di desa penyangga. Seluruh tanggung jawab penanganan berada di pihak TNWK.

2,TNWK menyatakan kesediaannya mengganti kerugian material maupun immaterial apabila terjadi kerusakan tanaman atau harta benda masyarakat akibat gajah liar yang masuk ke permukiman atau lahan pertanian.

3,TNWK bertanggung jawab memberikan kompensasi apabila terjadi konflik gajah liar di permukiman yang mengakibatkan korban manusia, baik luka-luka, cacat tetap, hingga meninggal dunia, sesuai dengan kesepakatan yang telah dituangkan dalam perjanjian

Hingga berita ini diturunkan, aksi unjuk rasa membubarkan diri dengan tertib dengan pengawalan ketat aparat keamanan. Warga menyatakan akan terus menyuarakan aspirasi hingga pemerintah memberikan solusi nyata dan berpihak pada keselamatan masyarakat desa penyangga TNWK.

(Agus)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *