banner 728x250

Hama Tikus Merajalela di Way Jepara Petani Khawatir Gagal Panen di Musim Tanam 2026

Avatar photo
banner 120x600
banner 468x60

WAY JEPARA, 31 Mei 2026 – Musim tanam padi dan jagung telah tiba di kawasan aliran irigasi Danau Way Jepara, wilayah Kecamatan Way Jepara, Kabupaten Lampung Timur. Namun, alih-alih bersiap merawat tanaman dengan gembira, para petani di Dusun Sinar Banten, Desa Labuhan Ratu Satu, justru dilanda kekhawatiran mendalam. Pasalnya, serangan hama tikus kini merajalela dan secara masif merusak lahan pertanian, membuat banyak warga terancam mengalami kegagalan panen total.

Naroji, salah satu petani setempat yang akrab disapa Panjol atau Gonar, menceritakan keluh kesahnya kepada awak media, Sabtu (30/5/2026). Ia mengungkapkan bahwa hampir seluruh petani di desanya mengalami kendala serius. Akibat ulah hama ini, jadwal tanam yang seharusnya berjalan lancar justru tertunda jauh dari rencana yang telah disepakati.

banner 325x300

“Seharusnya kami mulai menanam pada tanggal 15 Mei kemarin. Namun hingga hampir berakhirnya bulan ini, kami belum juga bisa menanam dengan aman. Hampir semua warga mengalami hal yang sama, tidak hanya saya seorang saja. Padahal musim tanam tahun lalu tidak separah ini kondisinya, kerusakan tidak seberat sekarang,” ungkap Naroji dengan nada prihatin.

Naroji menuturkan betapa sulitnya melindungi bibit tanaman dari serangan tikus yang jumlahnya tampak sangat banyak. Di lahan pertanian pertamanya, ia menebar sekitar 6 kilogram bibit padi. Pada hari pertama kondisi masih aman, namun sehari setelahnya, bibit tersebut habis dimakan tikus tak bersisa. Ia pun mencoba memindahkan lokasi tanam ke bagian sebelah barat lahan, bahkan sudah memasang penghalang plastik sebagai upaya pengamanan tambahan. Sayangnya, hasilnya tetap sama; tikus tetap mampu menembus pertahanan dan merusak tanaman yang baru tumbuh.

Kerusakan parah juga dialami oleh lahan milik ibunya. Padahal padi yang ditanam baru berumur satu minggu, namun kondisinya habis terserang tikus seolah-olah ladang tersebut sudah selesai dipanen.

“Jika kerusakan terjadi saat tanaman masih muda seperti sekarang, masih ada harapan tanaman bisa pulih kembali. Tapi kami sangat cemas jika serangan ini terus berlanjut hingga padi berumur 40 hingga 60 hari, apalagi saat mulai memasuki fase pengisian buah. Jika saat itu diserang, kami yakin pasti gagal panen total,” lanjutnya dengan cemas.

Kondisi memprihatinkan ini tidak hanya terjadi di Desa Labuhan Ratu Satu, namun juga menimpa wilayah tetangga, seperti di Desa Braja Asri. Seorang rekan petani di sana mengalami kerugian besar, di mana lahan jagung seluas 1 hektar habis dirusak tikus. Hasil panen yang tersisa sangat sedikit, sehingga hanya laku terjual seharga Rp700.000 saja, jauh di bawah modal yang telah dikeluarkan.

Menghadapi musibah yang datang bertubi-tubi ini, para petani sementara waktu hanya bisa pasrah, bersabar, dan berdoa memohon perlindungan.

“Kami hanya bisa berserah diri. Jika memang rezeki kami, insyaallah tidak akan kemana. Kami berharap sekali nanti saat padi berumur 40 hingga 60 hari, hama ini tidak lagi datang merusak, agar kami tetap bisa memanen hasil jerih payah kami,” ujar Sunarji penuh harap.

Para petani di Dusun Sinar Banten kini menaruh harapan besar kepada Dinas Pertanian dan pemerintah daerah setempat. Mereka meminta adanya tanggapan serius, arahan teknis penanggulangan hama yang efektif dan terkoordinasi, serta bantuan nyata agar serangan tikus ini dapat segera dikendalikan. Langkah cepat ini sangat dibutuhkan demi menyelamatkan hasil pertanian dan mencegah kerugian yang lebih besar bagi para petani di wilayah Way Jepara, Kabupaten Lampung Timur.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi maupun langkah penanganan yang disampaikan oleh pihak terkait terkait permasalahan hama tikus yang merajalela ini.

(red)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *