WAY JEPARA, 2 Juni 2026 – Musim tanam padi dan jagung yang bertepatan dengan menjelang peralihan menuju musim panas atau yang dikenal warga setempat sebagai musim Kolowijo atau pancaroba, seharusnya menjadi momen sibuk dan penuh harapan bagi para petani di kawasan aliran irigasi Danau Way Jepara, Kabupaten Lampung Timur. Namun, kondisi yang terjadi justru sebaliknya. Alih-alih bersiap merawat tanaman dengan gembira, para petani yang tersebar dari Dusun Sinar Banten Desa Labuhan Ratu Satu hingga Dusun Eka Sakti Desa Braja Sakti dan wilayah Braja Asri, justru dilanda kekhawatiran mendalam. Pasalnya, serangan hama tikus merajalela secara masif dan merusak lahan pertanian, membuat jadwal tanam tertunda drastis dan mengancam kegagalan panen total.
Di Dusun Eka Sakti, Desa Braja Sakti, keresahan mendalam dirasakan oleh Agus Mulyanto. Ia menceritakan nasib pahit yang sama dengan apa yang dialami oleh rekannya, Naroji, beberapa waktu sebelumnya. Agus mengaku telah dua kali menebar bibit padi di lahannya yang seluas sekitar setengah hektar, namun usahanya sia-sia belaka. Setiap kali bibit ditanam, tak lama kemudian habis dimakan tikus.
“Saya sudah dua kali tebar bibit padi di sawah, semuanya habis dimakan tikus. Akhirnya bibit sisa saya tanam di pinggir rumah saja, jauh dari sawah supaya lepas dari tikus. Tapi meski di samping rumah pun harus dijaga ekstra ketat, kalau tidak ya habis dimakan ayam atau burung juga,” ungkap Agus sambil tertawa kecil namun bernada sedih, menggambarkan betapa sulitnya melindungi benih saat ini.
Kondisi di Desa Braja indah, wilayah tetangga Braja Sakti, ternyata jauh lebih parah. Para petani di sana mengeluhkan bahwa bibit yang baru saja disemai atau ditebar, hanya bertahan satu malam saja. Keesokan harinya, bibit tersebut sudah ludes disambar oleh tikus yang jumlahnya tampak tak terkendali.
Akibat gangguan hama yang luar biasa ini, jadwal tanam yang seharusnya sudah dimulai sejak tanggal 15 Mei 2026 lalu, hingga kini memasuki bulan Juni 2026 baru bisa dilakukan oleh sebagian kecil petani. Kondisi tanah pun mulai terasa kering dan panas karena cuaca yang berangsur berubah, mengingat perkiraan waktu sudah semakin dekat memasuki masa pancaroba.
Keluhan serupa juga datang dari Dusun Sinar Banten, Desa Labuhan Ratu Satu. Sunarji, yang akrab disapa Panjol atau Gonar, menceritakan kepada awak media bahwa hampir seluruh warga di desanya mengalami kendala serupa. Ia menegaskan, kerusakan akibat hama tikus tahun ini jauh lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Seharusnya kami mulai menanam pada tanggal 15 Mei kemarin. Namun hingga hampir berakhirnya bulan lalu, kami belum juga bisa menanam dengan aman. Hampir semua warga mengalami hal yang sama, tidak hanya saya seorang saja. Padahal musim tanam tahun lalu tidak separah ini, kerusakan tidak seberat sekarang,” ungkap Sunarji dengan nada prihatin.
Sunarji menuturkan betapa sulitnya melindungi bibit dari serangan tikus. Di lahan pertamanya, ia menebar 6 kilogram bibit padi; hari pertama aman, namun sehari setelahnya habis tak bersisa. Ia pun mencoba memindahkan lokasi tanam ke sebelah barat lahan, bahkan memasang penghalang plastik sebagai benteng tambahan. Sayangnya, tikus tetap mampu menembus pertahanan tersebut.
Kerusakan parah juga dialami lahan milik ibunya. Padahal padi baru berumur satu minggu, namun kondisinya habis terserang tikus seolah ladang itu sudah selesai dipanen.
“Jika kerusakan terjadi saat tanaman masih muda seperti sekarang, masih ada harapan tanaman bisa pulih kembali. Tapi kami sangat cemas jika serangan ini terus berlanjut hingga padi berumur 40 hingga 60 hari, apalagi saat mulai memasuki fase pengisian buah. Jika saat itu diserang, kami yakin pasti gagal panen total,” lanjut Sunarji cemas.
Dampak kerugian ekonomi pun mulai terasa nyata. Di Desa Braja Asri, seorang petani mengalami musibah di mana lahan jagung seluas 1 hektar habis dirusak tikus. Hasil panen yang tersisa sangat sedikit, sehingga hanya laku terjual seharga Rp700.000 saja – angka yang sangat jauh di bawah modal yang telah ia keluarkan untuk pengolahan lahan dan pembelian bibit.
Menghadapi musibah yang datang bertubi-tubi ini, para petani untuk sementara waktu hanya bisa pasrah dan berdoa.
“Kami hanya bisa berserah diri. Jika memang rezeki kami, insyaallah tidak akan kemana. Kami berharap sekali nanti saat padi berumur 40 hingga 60 hari, hama ini tidak lagi datang merusak, agar kami tetap bisa memanen hasil jerih payah kami,” ujar Sunarji penuh harap.
Kini, seluruh petani yang tersebar dari Labuhan Ratu hingga Braja Sakti dan Braja Asri menaruh harapan besar kepada Dinas Pertanian dan Pemerintah Kabupaten Lampung Timur. Mereka meminta adanya tanggapan serius, arahan teknis penanggulangan hama yang efektif dan terkoordinasi, serta bantuan nyata agar populasi tikus dapat segera dikendalikan. Langkah cepat ini sangat dibutuhkan demi menyelamatkan sisa waktu tanam dan mencegah kerugian yang jauh lebih besar di musim tanam 2026 ini.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi maupun langkah penanganan konkret yang disampaikan oleh pihak terkait terkait permasalahan hama tikus yang kini telah meluas merajalela di berbagai desa di wilayah Kecamatan Way Jepara.
(Red)


















